DISKUSI BERBAHASA INGGRIS BERTEMA POST KOLONIALISME

FBS-Karangmalang. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (FBS UNY) mengadakan diskusi berbahasa Inggris bertema “Post Kolonialisme dalam Sastra dan Seni”. Diskusi ini merupakan kelanjutan dari program pada tahun sebelumnya, namun dengan format yang baru. Diskusi yang menghadirkan narasumber Dr. Katrin Bandel (dosen ilmu religi dan budaya, Universitas Sanata Dharma) dan Drs. AM. Susilo Pradoko, M.Si. (dosen pendidikan seni musik, UNY) ini dihadiri oleh dosen-dosen di FBS UNY. Bertempat di di ruang seminar, lantai dua, laboratorium musik dan tari FBS UNY, diskusi ini berlangsung selama hampir dua jam, pada hari Jum’at (12/02/2016).

Dr Bandel, salah satu narasumber dalam diskusi ini menjelaskan bahwa kajian tentang post colonialism  akan membuka wawasan dan menyadarkan kita sebagai negara yang pernah dijajah khususnya Indonesia akan munculnya fenomena post kolonialisme. Sebenarnya kita belum sepenuhnya bebas merdeka dari penjajahan bangsa asing, kenyataannya kita masih terjajah dalam hal ideologi, seni, dan budaya. Sebagian orang berpendapat bahwa kapitalisme adalah sebuah kedok dari post kolonialisme. Diskusi ini menggunakan bahasa Inggris, mengapa? Karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang digunakan oleh masyarakat dunia. Para civitas akademika dituntut untuk belajar dan menguasai bahasa Inggris agar tidak tertinggal oleh bangsa-bangsa lain. Bayangkan betapa besarnya dampak penjajahan bangsa Inggris di dunia sehingga sampai detik ini bahasa Inggris dijadikan bahasa Internasional.

“Kebanyakan orang Indonesia merasa bangga berbicara dengan bahasa Inggris untuk menunjukkan dirinya lebih keren dibanding dengan mereka yang tidak bisa berbicara bahasa Inggris” ujar Dr. Katrin Badel

Sangat disayangkan sekali kita sebagai masyarakat Indonesia tidak menjunjung tinggi bahasa serta budaya asli kita sendiri. Kita diharapkan cepat tanggap akan fenomena ini, karena lambat laun kebudayaan asli kita akan tergerus oleh perkembangan zaman. Budaya barat selalu kita agung-agungkan mulai dari bahasa, seni dan tradisi yang kita anggap lebih populer dibanding dengan budaya Indonesia. Sementara pembagian antara “Barat” dan “Timur” juga masih menjadi perdebatan sampai saat ini.

“Musik tradisional seperti gamelan dan keroncong  dianggap sebagai musik yang ketinggalan zaman, kampungan, dan primitif  dibanding dengan musik modern yang kebarat-baratan yang memiliki melodi, ritme dan harmoni.”  Ujar Drs. AM. Susilo Pradoko, M.Si.

Semoga dengan adanya diskusi ini  kita dapat berpikir  lebih kritis tentang  isu-isu yang berkembang agar menjadi masyarakat yang sadar dan tanggap akan fenomena yang tengah terjadi di masyarakat Indonesia. (Zahra)