YOGYAKARTA - Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) siap menjadi tuan rumah gelaran seni internasional perdana bertajuk International Collaboration on T·S·A·E (Trans-Sensory Art Exhibition) [Launching Edition - 2026]. Menggandeng institusi lintas negara dari Singapura hingga Malaysia, pameran akbar ini tengah mematangkan rangkaian persiapan menjelang perilisan resmi panggilan karya (Call for Participation). Agenda pendaftaran karya tersebut dijadwalkan akan berlangsung sepanjang bulan Juni hingga Juli 2026 yang akan datang.
Kolaborasi internasional berskala besar ini mempertemukan pihak UNY dengan National Institute of Education (NIE) Singapore, Nanyang Technological University (NTU) Singapore, dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Agenda akbar tersebut sengaja dirancang sebagai platform dua tahunan (biannual) untuk menampilkan ruang eksperimen, pengalaman, serta narasi artistik dalam bentuk multimodal. Melalui pertemuan tatap muka yang sudah mulai berjalan bersama para delegasi, para mitra berkomitmen menyuguhkan sebuah pertunjukan yang berbobot.
Pada edisi perdana ini, pameran ICo T·S·A·E bakal mengusung sebuah tema kuratorial yang bertajuk "Saujana Sensorium". Tema tersebut membingkai pameran sebagai bentang pengalaman inderawi yang memperluas cara publik mengalami karya seni melalui perjumpaan tubuh, indera, dan makna. Melalui konsep kuratorial ini, para pengunjung tidak hanya diundang untuk sekadar melihat karya seni yang dipajang, tetapi juga mendengar, meraba, hingga bergerak merespons seluruh ruang pameran.
Ketua Panitia Pelaksana ICo T·S·A·E 2026, Dwi Wulandari, M.A.Ed., M.Pd., menegaskan bahwa agenda ini bukan sekadar sebuah pameran seni biasa. Pameran ini merupakan bentuk undangan terbuka bagi publik untuk mengalami seni secara mendalam lewat perjumpaan tubuh, indera, material, cerita, hingga pertemuan bersama. Melalui tema "Saujana Sensorium", pameran ini membuka bentang pengalaman inderawi di mana pengunjung dirangsang untuk merefleksikan diri dan berdialog langsung dengan karya.
"Kata 'sae' yang diucapkan di dalam T·S·A·E membawa resonansi yang indah dalam bahasa Jawa, yang berarti baik, pantas, atau unggul, namun juga menyiratkan etika kepedulian," ujar Dwi Wulandari. Dia menambahkan bahwa hal ini berarti menciptakan pameran yang dipikirkan dengan matang, aman, inklusif, mudah diakses, dan penuh rasa hormat kepada beragam audiens termasuk anak, mahasiswa, seniman, peneliti, pendidik, hingga masyarakat luas.
Kerangka konseptual pameran ini nantinya akan membagi alur karya ke dalam tiga klaster (strand) utama yang saling menguatkan. Klaster tersebut terdiri dari Strand 1 - Multimodal-Transsensori Artworks yang fokus pada karya seni instalasi interaktif berbasis sensor, seni suara, video eksperimental, hingga teknologi AR/VR/MR. Kemudian Strand 2 - Children’s Creative Artworks sebagai ruang serius bagi karya kreatif anak, serta Strand 3 - Prototype/Design/Artwork-based Research Outputs untuk riset berbasis praktik seni.
Selain pameran utama, agenda internasional ini akan dihidupkan lewat serangkaian program publik dan akademik yang padat. Kegiatan pendukung tersebut meliputi Opening Ceremony & Curatorial Talk, sesi Artist Talk dan Research Talk, Kartini Talk yang menonjolkan kepemimpinan kreatif, rupa-rupa Workshop Series, hingga Guided Tours yang ramah anak. Melalui kemitraan global ini, ICo T·S·A·E sekaligus menjadi pemenuhan nyata bagi Indikator Kinerja Utama (IKU) 5 perguruan tinggi.
Adapun jadwal penting pelaksanaan agenda pameran internasional ini direncanakan bakal berjalan sesuai alur lini masa yang telah ditetapkan. Rangkaian kegiatan akan dimulai dengan perilisan resmi Call for Participation pada Juni 2026, yang dilanjutkan dengan batas akhir pengiriman karya pada Juli 2026. Setelah proses pengumuman hasil seleksi pada Agustus 2026 dan pengiriman karya pada September 2026, pelaksanaan pameran utama akan berlangsung pada 28 September s.d 10 Oktober 2026 bertempat di GOR Beladiri UNY.