Yogyakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar Ujian Promosi Doktor atas nama Nurvita Anjarsari, M.Hum., pada Kamis, 9 Juli 2026. Dalam forum akademik tertinggi itu, promovenda mempertahankan disertasi berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Bahasa Indonesia Bermuatan Budaya dengan Strategi SEKAR JAGAD bagi Penutur Bahasa Asing”.
Sidang dipimpin oleh Ketua Penguji Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., AIFO yang juga merupakan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta. Bertindak selaku Promotor adalah Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, didampingi Kopromotor Prof. Dr. Teguh Setiawan, M.Hum. Dewan penguji dilengkapi oleh Prof. Dr. Suroso, M.Pd. selaku Penguji Internal 1, Prof. Dr. Kastam Syamsi, M.Ed. selaku Penguji Internal 2, serta Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum. dari Universitas Sebelas Maret selaku Penguji Eksternal.
Penelitian ini berangkat dari sebuah paradoks. Bahasa Indonesia kian diminati dunia, program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) kini hadir di lebih dari 61 negara, tetapi bahan ajarnya masih berorientasi pada kompetensi linguistik. Sebagian besar masih berkutat pada tata bahasa dan kosakata. Budaya, jika pun hadir, kerap hanya menjadi pelengkap, bukan isi pembelajaran yang sesungguhnya. Di sisi lain, PBB telah menetapkan SDGs sebagai tanggung jawab kolektif seluruh warga dunia, termasuk dunia pendidikan. Namun, kajian tentang SDGs dalam pembelajaran bahasa selama ini hampir seluruhnya berkembang di ranah bahasa Inggris. Pembelajaran BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asingbelum memiliki satu pun model yang dirancang untuk memadukan penguasaan bahasa dengan kesadaran keberlanjutan. Kesenjangan itulah yang dijawab dalam penelitian ini.
Temuan analisis kebutuhan mempertegas kesenjangan itu. Sebanyak 68 persen pemelajar mengaku belum siap berkomunikasi secara alami meskipun telah menguasai tata bahasa. Sementara itu, 85 persen pemelajar menyatakan membutuhkan bahan ajar berbasis kearifan lokal, dan 98 persen pengajar berminat menghadirkan topik keberlanjutan di kelasnya.
Menjawab persoalan tersebut, Nurvita mengembangkan model pembelajaran dengan strategi SEKAR JAGAD. Nama itu dipinjam dari motif batik klasik yang merangkai aneka corak dalam satu bidang kain. Secara filosofis, sekar berarti bunga dan jagad berarti semesta: bunga-bunga yang mekar di seluruh penjuru dunia. Nama tersebut sekaligus merupakan akronim yang menaungi sepuluh langkah pembelajaran, mulai dari Siap Belajar hingga Dunia Bahasa dan Budaya.
Kekuatan model ini terletak pada arsitektur yang disebutnya “empat desain, satu jiwa”. Empat kerangka teori internasional yakni pembelajaran bahasa komunikatif (Communicative Language Teaching/CLT), kompetensi komunikatif antarbudaya (Intercultural Communicative Competence/ICC), pembelajaran bahasa terintegrasi konten (Content Language Integrated Learning/CLIL), dan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD) dipadukan dalam satu desain. Keempatnya dijiwai oleh kearifan lokal nusantara: gotong royong, tepa selira, filosofi batik, hingga memayu hayuning bawana atau keselarasan manusia dengan alam.
Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan Design-Based Research melalui empat fase, dari analisis kebutuhan hingga uji keefektifan. Produk yang dihasilkan berupa satu ekosistem lengkap: buku ajar, buku model, buku panduan pengajar, serta perangkat evaluasi. Uji coba dilakukan terhadap 16 pemelajar BIPA level menengah di UNY yang berasal dari Tiongkok, Thailand, dan Prancis.
Kebaruan penelitian ini tidak sedikit. SEKAR JAGAD tercatat sebagai model pembelajaran BIPA pertama yang berorientasi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dan juga model pertama yang menggunakan empat pendekatan dan satu jiwa bahasa sebagai rumah budaya menurut Prof. Dr. Suminto A. Sayuti. Model ini juga menempatkan kearifan lokal sebagai fondasi pembelajaran, bukan sekadar pojok pengetahuan.
Dengan rancangan itu, manfaat model ini bagi SDGs bersifat ganda. Pemelajar asing tidak hanya terampil berbahasa Indonesia, tetapi juga tumbuh sebagai warga dunia yang sadar dan bertanggung jawab terhadap isu keberlanjutan, mereka diajak merefleksikan gaya hidup, membandingkan praktik budaya, hingga merancang aksi nyata. Pada saat yang sama, kearifan lokal Indonesia yang selama berabad-abad menopang keberlanjutan ekologis ikut terdokumentasikan, terpromosikan, dan terlestarikan di panggung dunia. Bahasa Indonesia pun tampil bukan sekadar sebagai objek pembelajaran, melainkan sebagai kendaraan diplomasi budaya dan kontribusi Indonesia bagi agenda global.
Setelah memaparkan temuan dan menjawab pertanyaan dewan penguji, promovenda dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor Pendidikan [dengan predikat Cumlaude. Kedepan, model SEKAR JAGAD direkomendasikan untuk didiseminasikan melalui penerbitan terbuka, forum ilmiah internasional, dan pelatihan pengajar BIPA, serta dikembangkan ke level pemula dan mahir. Seperti filosofi batik yang menginspirasinya, penelitian ini membawa pesan sederhana: keindahan sejati lahir dari keberagaman yang dirangkai dengan sepenuh hati. (*)
Humas FBSB UNY,