
Nosi Anggana, mahasiswa berprestasi Fakultas Bahasa, Seni dan Budaya berhasil meraih predikat “Anugerah Kesenian Berdampak” dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional 2026. Perjalanan Nosi untuk sampai dititik ini bukan hal yang mudah.
Di bidang kompetisi, Nosi mencatat sejumlah capaian baik secara individu maupun beregu. Pada tingkat internasional, ia meraih Juara 2 dalam ISBI Bandung International Art Competition “Contemporary Music Category” 2023. Di tingkat nasional, sejumlah capaian diraih melalui berbagai kompetisi musik, antara lain Juara 1 Vocal Group Sayembara Sastra dan Seni (SATRANI) 2023, Juara 1 Cover Band Festival Seni Pertunjukan Indonesia (FSPI) 2024, Juara 2 Musik Kamar FSPI 2024, Juara 2 Vocal Group Music Corner: Vocal Competition 2024, Juara 2 Vocal Group Competition UNY FEST 13 2025, serta penghargaan Outstanding Award Yayasan Musik Jakarta Indonesia Open Competition 2025. Capaian tersebut juga dilengkapi dengan Silver Medal EuroAsia Strings Competition 2025.
Tidak hanya berkompetisi, pada 2024-2025, Ia tercatat sebagai presenter pada: International Conference on Indonesian Language, Art, and Culture; Simposium Amerika Eropa; The 2nd International Conference of Music, Performing Arts, and Social Studies (ICOMPASS) 2025. Nosi juga terlibat dalam French-Indonesian Traditional Music Collaboration Concert yang mempertemukan University of Poitiers, Prancis, dan UNY.
Pengembangan kompetensi juga dilakukan melalui berbagai program kemahasiswaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Pada 2024, menerima hibah pendanaan Program Wirausaha Merdeka Angkatan 3; dan berkesempatan berkontribusi sebagai pianis dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional. Pada 2026, memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Sosial Humaniora.
Komitmen terhadap pengabdian juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Nosi. Nosi terlibat sebagai relawan dan koordinator dalam berbagai kegiatan pendidikan dan seni, termasuk Pawiyatan Anak Kemantren Kraton Yogyakarta, pelatihan penciptaan lagu anak, pelatihan paduan suara bagi guru, hingga kegiatan internasional melalui International Volunteer and Youth Fellowship Indonesian Youth Impact. Pada 2026, keterlibatannya berkembang hingga kegiatan pembelajaran angklung dengan metode Kodály dan interactive angklung performance di University of Malaya.
Ikhtiar dalam bidang pendidikan musik juga diwujudkan melalui karya. Nosi tercatat sebagai penulis sejumlah buku ber-ISBN, di antaranya Penciptaan Lagu Anak: Seni Menulis Lagu untuk Anak, Progressive Sight-Reading for Beginner Violin, dan Mozart: Karir dan Klasisisme. Ia juga terlibat dalam pengembangan inovasi pembelajaran musik yang memperoleh Hak Cipta.
Pilmapres: Tiga Tahun Berproses
Pilmapres bukan proses yang dapat dicapai secara instan. Tiga tahun perjalanan Pilmapres menjadi proses menempa diri yang tidak hanya berkaitan dengan prestasi, tetapi juga dengan kematangan kognitif, emosional, dan spiritual. Pada 2024, Nosi untuk pertama kalinya mewakili Program Studi Pendidikan Seni Musik dalam ajang Pilmapres. Namun, ia belum berhasil menembus tahap final tingkat fakultas. Alih-alih berhenti, pengalaman tersebut justru menjadi titik evaluasi untuk kembali bertumbuh. Pada 2025, Nosi kembali mengikuti Pilmapres dan berhasil menjadi wakil fakultas di tingkat universitas dengan capaian peringkat 4. Di tingkat internal UNY, rekam jejak Pilmapres berlanjut, hingga pada 2026, Nosi meraih meraih Juara 1 Pilmapres UNY, Juara 3 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi LLDIKTI V 2026, dan hingga perjalanan tersebut bermuara pada capaian Anugerah Kesenian Berdampak dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional 2026.

Dalam perjalanan Pilmapres 2026 bersama dosen pembimbing Erna Istikomah, S.S., M.A.; Nosi menghadirkan gagasan kreatif Robotic Gamelan Plant Care System, yang mempertemukan musik, kearifan lokal Jawa, teknologi, dan persoalan ketahanan pangan. Gagasan tersebut lahir dari keinginan untuk turut berkontribusi menghadapi tantangan krisis iklim, khususnya di sektor pertanian Indonesia, melalui bidang keilmuan yang ditekuni, yakni musik, serta kekayaan kearifan lokal Jawa. Menurut Nosi, capaian dalam Pilmapres bukan semata-mata pencapaian personal. Di balik setiap capaian terdapat dukungan orang tua, teman-teman, serta arahan dan bimbingan para dosen yang menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
“Saya bersyukur dikelilingi teman-teman yang memberikan semangat, Bapak/Ibu dosen yang senantiasa memberikan arahan dan bimbingan. Capaian dalam Pilmapres ini semoga dapat memberikan kebermanfaatan nyata bagi sekitar sebagai bentuk pertanggungjawaban moral saya kepada kedua orang tua, Bapak dan Ibu dosen, teman-teman, serta seluruh pihak yang telah mendukung saya hingga hari ini.”
Anugerah Kesenian Berdampak yang diraih pada Pilmapres Nasional 2026 pun tidak dimaknai sebagai titik akhir. Bagi Nosi, penghargaan tersebut justru menghadirkan amanah baru untuk terus berkarya, menjaga nilai budaya, mengembangkan inovasi, dan memperluas kebermanfaatan.
Perjalanan tiga tahun Pilmapres menjadi bukti bahwa prestasi tidak lahir dari proses yang instan. Ia tumbuh dari keberanian untuk mencoba, kesediaan mengevaluasi diri, konsistensi berikhtiar, serta kesadaran bahwa setiap capaian membawa tanggung jawab untuk memberi dampak yang lebih luas.